Jumat, 29 Juli 2011

ini hasil akhir penelitian kami


MENGANGKAT MUSIK TRADISI MELALUI MUSIK KOLABORASI

Oleh : Vika Mutiara Arsy, Neng Yanti, Dina Sugianti
Saat ini, musik tradisional kondisinya  sangat menghawatirkan karena  semakin kurangnya minat masyarakat. Hal ini disebabkan bertambah maraknya musik modern yang disertai dengan memudarnya minat masyarakat terhadap musik tradisional tersebut, sebagai akibat adanya pergeseran nilai dan pemikiran yang mengikuti laju peradaban yang tidak mungkin dihindari.
Sempitnya Ruang Musik Tradisi
Inovasi teknologi yang gemerlap dan konsumtif membuat sebagian masyarakat kurang memperhatikan kebudayaannya sendiri. Selain itu, image ketinggalan zaman telah menjerat masyarakat ke dalam trend modernisasi. Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak mempunyai ruang yang cukup memadai untuk berkembang secara alamiah.
Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional. Berbagai kesenian  trdisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional  jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik, dan sebagainya. Selama ini, pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih terbatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat.
            Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop.
Berkreasi Melalui Musik Kolaborasi
             Meskipun demikian, semangat untuk mempertahankan musik tradisional sebagai bagian dari khazanah kebudayaan lokal dan nasional, tak pernah surut.  Seiring dengan laju peradaban ini, dengan segala kreativitasnya, para seniman berusaha mengeksiskan musik tradisional melalui beragam cara, di antaranya dengan memadukan unsur musik yang berbeda, yakni musik tradisional dan modern atau sering disebut dengan musik kolaborasi. Dalam kaitan dengan itu, gitaris Saratuspersen, Ihwan, selasa (24/8) mengatakan bahwa salah satu faktor munculnya musik kolaborasi adalah adanya ketertarikan personil Saratuspersen terhadap world music, yakni munculnya inspirasi dari aliran musik dunia sehinga berkeinginan memperkaya khazanah musik Indonesia dan budaya Indonesia dan mengeksiskan musik tradisi dengan kemasan yang lebih fresh melalui music kolaborasi tersebut.
Meskipun musik tradisional hanya sebagai tambahan repertoar dalam musik kolaborasi, namun hal itu tidak menjadi masalah bila melihat hasil pertunjukan dari musik kolaborasi tersebut. Boleh dibilang musik kolaborasi adalah salah satu cara seniman tradisi untuk meperkenalkan musik tradisi kepada masyarakat luas. Selain itu, hal ini juga merupakan kreativitas seniman yang ingin berkarya dan mengahasilkan suatu jenis musik yang unik dan berbeda.
Tidak bisa dipungkiri bahwa musik kolaborasi dapat dicerna dengan baik dan menjadi senjata yang ampuh untuk menjerat minat generasi muda untuk lebih mengenal dan tertarik pada musik tradisi, termasuk berbagai jenis instrumen yang ada di dalamnya. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh anggota Krakatau Band, Yoyon Darsono (25/8), “Musik Kolaborasi yang berhasil mengusung warna musik tradisi dengan nuansa Karawitan,  maka alat-alat  musik tradisional itu muncul ke permukaan yang dapat dilihat dan ditonton serta diapresiasi oleh para penonton yang menyaksikan suguhan musik Kolaborasi tersebut. Para penonton atau penikmat seni yang awam sekalipun akan tahu dan mulai mengenal alat-alat  musik tradisional yang dimainkan secara kolaborasi di panggung-panggung festival, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bukan saja alat musik tradisionalnya yang dikenal, tapi juga hasil olahan musikalnya dapat diapresiasi oleh para penikmat musik dunia.”
               Bukan  hal yang tidak mungkin bahwa musik kolaboasi dapat mengubah pandangan seseorang yang menganggap musik tradisional itu membosankan serta menyadari bahwa musik tradisional juga dapat dikemas dengan menarik dan disukai oleh kaum muda masa kini. Seorang mahasiswi Bogor Educare, Sri Fathonah mengatakan “ ketika saya mendengar lagu Saratuspersen yang berjudul Ilusi, dari situ saya berkata bahwa itu lagu pertama yang saya sukai, its so amazing!”
Seperti yang telah diketahui bahwa dalam lagu Ilusi, perbedaan unsur tradisional yang terdengar dari bunyi gamelan dan bunyi terompet dikolaborasikan dengan gitar sangat terasa kontras perbedaan musikalnya. Namun,,perbedaan itulah yang membuat lagu itu menarik.
Selain bisa mengubah pandangan generasi muda terhadap musik tradisi, musik kolaborasi banyak diharapkan oleh generasi muda yang menganggap kolaborasi musik tersebut adalah keunikan yang sangat menarik karena tetap dapat melestarikan kesenian tradisi tetapi tetap bisa mengikuti pekembangan jaman sehingga tidak terkesan kolot.
Kini, tidak hanya seniman tradisai saja yang mengkolaborasikan musiknya agar dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas, termasuk masyarakat dunia. Beberapa grup band terkenal di industri musik Indonesia pun sudah banyak yang mengusung musik kolaborasi dalam karyanya, misalnya Bondan Ft Fead2black dengan lagunya kroncong protol yang membuat remaja Indonesia bagaikan terkena demam kroncong protol.
Dengan menjamurnya musik kolaborasi beserta prospeknya yang menjanjikan merupakan hal yang membanggakan dan perlu ditingkatkan secara lebih baik karena fakta menunjukan musik tradisi yang dikolaborasikan dengan musik modern menghasilkan suatu keunikan yang dapat mendobrak pasar musik dunia. Banyak grup yang mengusung musik kolaborasi yang telah merasakan panggung dunia dan mendapat antusiasme besar dari para penonton dunia, misalnya Saratuspersen yang sudah merasakan panggung Asia, Eropa dan Amerika, serta Krakatau band  yang sudah berkeliling di empat benua di dunia. Tentu saja, hal ini akan membuat masyarakat Indonesia yang mencintai musik tradisi berdecak kagum dan bangga.
Sayangnya, kemajuan musik dan sambutan hangat dunia untuk musik kolaborasi ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian masyarakat yang kurang menyadari pentingnya mengenalkan musik tradisi melalui musik kolaborasi ini. Begitu juga dengan pemerintah yang kurang memperhatikan prospek yang baik tersebut.  Kini kita hanya bisa berharap agar pemerintah lebih peduli terhadap musik tradisional dengan memberikan dukungan yang lebih konkrit dalam pelestarian seni tradisi ini, dan tentu yang terpenting adalah adanya kesadaran dari diri sendiri untuk melestarikan warisan budaya yang ada di Indonesia, khususnya di tanah Sunda.

Kamis, 28 Juli 2011

ya ampuuuunnnnnnnnnnnnnn

     Bikin karya ilmiah ko susah banget yaaaa.. ternyata tahap kedua itu aja masih salah bange loh. bingung deh jadinya karena presentasinya besok. dan saya belum sama sekali menguasai materi.. ya tuhannn

Rabu, 27 Juli 2011

ini tahap kedua penulisan

Mengangkat Musik Tradisi Melalui Musik Kolaborasi

Saat ini musik tradisional sangat menghawatirkan karena masih kurang diminati oleh masyarakat lokal. Hal ini dikarenakan maraknya musik modern dan adanya pemudaran minat yang disebabkan oleh pergeseran nilai dan pemikiran yang sesuai dengan laju peradaban yang tidak mungkin bisa di hindari. Inovasi tekhnologi yang gemerlap dan konsumtif membuat sebagian masyarakat kurang memperhatikan kebudayaannya sendiri. Selain itu, image ketinggalan zaman telah menjerat masyarakat kedalam trend modernisasi. Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional.
Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional. Berbagai kesenian trdisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat.
Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop.
Meski demikian, semangat untuk mempertahankan musik tradisional sebagai bagian dari kebudayaan, masih tak berhenti di tengah jalan. Seiring dengan laju peradaban ini, seniman kreatif berusaha mengeksiskan musik tradisional dengan cara mamadukan unsur musik yang berbeda dan sering disebut dengan musik kolaborasi. Gitaris Saratuspersen, Ihwan, selasa (24/8) mengatakan faktor munculnya musik kolaborasi adalah ketertarikan terhadap world music, munculnya inspirasi dari aliranmusik dunia, keinginan memperkaya khazanah musik Indonesia dan budaya Indonesia (klise tapi fakta) dan mengeksiskan music tradisi dengan kemasan lebih fresh.
Meskipun nusik tradisional hanya sebagai tambahan reportoar dalam music kolaborasi namun semua itu tidaklah masalah karena semua itu tertutupi oleh peranan penting yang dihasilkan. Boleh dibilang music kolaborasi adalah trik seniman tradisi untuk meperkenalkan music tradisi kepada masyarakat yang bukan idealis tradisi atau memang kreativitas seniman yang ingin berkarya dan mengahasilkan suatu jenis music yang unik. Tidak bisa dipungkiri bahwa musik kolaborasi dapat dicerna dengan baik dan menjadi senjata untuk menjerat generasi muda lebih mengenal dan tertarik pada music tradisi termasuk segala instrument yang ada di dalamnya. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh anggota Krakatau Band, Yoyon Darsono (25/8), “Musik Kolaborasi yang berhasil mengusung warna musik tradisi dengan nuansa Karawitan maka alat-alat musik tradisional itu muncul kepermukaan yang dapat dilihat dan ditonton serta di apresiasi oleh para penonton yang menyaksikan suguhan musik Kolaborasi tersebut. Para penonton atau penikmat seni yang awam sekalipun mereka akan tahu dan mulai mengenal alat-alat musik tradisional yang dimainkan secara kolaborasi di panggung Festival baik di dalam negeri maupun di luar negeri. bukan saja alat musik tradisionalnya yang dikenal, tapi juga hasil olahan musikalnya dapat diapresiasi oleh para penikmat musik dunia.”
Bukan hal yang tidak mungkin bahwa music kolaboasi dapat membawa seseorang yang menganggap music tradisional membosankan menyadari bahwa music tradisional dapat dikemas dengan menarik dan disukai oleh remaja muda masa kini. Seorang mahasiswi Bogor Educare, Sri Fathonah mengatakan “ ketika saya mendengar lagu saratus persen yang berjudul ilusi, dari situ saya berkata bahwa itu lagu pertama yang saya sukai, its so amazing!”
Seperti yang telah diketahui bahwa dalam lagu ilusi, perbedaan unsur tradisional yang terdengar dari bunyi gamelan dan unsure tradisional yang terdengar dari bunyi terompet dan gitar sangat terasa jelas perbandingannya. Namun perbedaan itulah yang membuat lagu itu menarik.
Kini tidak hanya seniman tradisai saja yang mengkolaborasikan musiknya agar dapat dikenal oleh masyarakat dunia. Beberapa grup band terkenal di industry music indonesiapun sudah banyak yang mengusung musik kolaborasi dalam karyanya misalnya Bondan Ft Fead2black dengan lagunya kroncong protol yang membuat remaja Indonesia bagaikan terkena demam kroncong protol. Dengan menjamurnya musik kolaborasi dan prospek baik yang ada didalam music kolaborasi merupakan hal yang membanggakan dan perlu ditingkatkan secara lebih spesifik karena fakta menunjukan musik tradisi yang dikolaborasikan dengan music modern menghasilkan suatu keunikan yang dapat mendobrak pasar musik dunia. Banyak beberapa grup yang mengusung musik kolaborasi yang telah merasakan panggung dunia dan mendapat antusiasme besar dari dunia misalnya saratus persen yang sudah merasakan panggung Eropa dan amerika serta Krakatau band yang sudah berkeliling di empat benua yang ada di dunia. Tentu saja hal ini sangat membuat masyarakat Indonesia yang mencintai musik tradisi berdecak kagum dan bangga. Sayangnya kemajuan musik dan sambutan hangat dunia untuk musik kolaborasi ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang kurang menyadari pentingnya kesenian music tradisi dan pemerintahpun kurang memperhatikan prospek baik tersebut. Dan kini kita hanya bisa berharap agar pemerintah lebih peduli terhadap music tradisional dan tentu yang terpenting adalah adanya kesadaran dari diri sendiri untuk melestarikan warisan budaya yang ada di Indonesia khususnya di tanah sunda.

tahap penulisan pertama, masih kurang kata tapi udah di like sama salah satu nara sumber kita

mengangkat musik tradisi lewat musik kolaborasi

oleh Vhyca Falsknowles Godwillbedragmetohell pada 27 Juli 2011 jam 10:19
Mengangkat Musik Tradisi dengan Musik Kolaborasi

                Saat ini musik tradisional masih kurang diminati. Hal ini dikarenakan maraknya musik modern dan adanya pemudaran minat yang disebabkan oleh pergeseran nilai dan pemikiran yang sesuai dengan laju peradaban yang tidak mungkin bias di hindari. Inovasi tekhnologi yang gemerlap dan konsumtif membuat sebagian masyarakat kurang memperhatikan kebudayaannya sendiri. Selain itu, image ketinggalan zaman telah menjerat masyarakat kedalam trend modernisasi.
                Seiring dengan laju peradaban ini, seniman kreatif berusaha mengeksiskan music tradisional  dengan cara mamadukan unsur musik yang berbeda dan sering disebut dengan music kolaborasi. Gitaris Saratuspersen, Ihwan, selasa (24/8) mengatakan faktor munculnya musik kolaborasi adalah ketertarikan terhadap world music, munculnya inspirasi dari aliranmusik dunia, keinginan memperkaya khazanah musik Indonesia dan budaya Indonesia (klise tapi fakta) dan mengeksiskan music tradisi dengan kemasan lebih fresh.
                Musik kolaborasi dipopulerkan oleh Duo Jimsaku (Akira Jimbo dan Tetsuko Sakura) seniman asal jepang yang sampai sekarang masih menjasi influence music kolaborasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa music kolaborasi dapat dicerna dengan baik dan menjadi senjata untuk menjerat generasi muda lebih mengenal dan tertarik pada music tradisi termasuk segala instrument yang ada di dalamnya. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh yoyon darsono (25/8), “Musik Kolaborasi yang berhasil mengusung warna musik tradisi dengan nuansa Karawitan  maka alat2 musik tradisional itu muncul kepermukaan yang dapat dilihat dan ditonton serta di apresiasi oleh para penonton yang menyaksikan suguhan musik Kolaborasi tersebut.Para penonton atau penikmat seni yang awam sekalipun mereka akan tahu dan mulai mengenal alat2 musik tradisional yang dimainkan secara kolaborasi di panggung Festival baik di dalam negeri maupun di luar negeri. bukan saja alat musik tradisionalnya yang dikenal, tapi juga hasil olahan musikalnya dapat diapresiasi oleh para penikmat musik dunia.”
                Kini tidak hanya seniman tradisai saja yang mengkolaborasikan musiknya agar dapat dikenal oleh masyarakat dunia. Beberapa grup band terkenal di indonesiapun sudah banyak yang mengusung music kolaborasi dalam karyanya. Dengan menjamurnya music kolaborasi dan prospek baik yang dibawanya merupakan hal yang membanggakan dan perlu ditingkatkan secara lebih spesifik karena fakta menunjukan music tradisi yang dikolaborasikan dengan music modern menghasilkan suatu keunikan yang dapat mendobrak pasar music dunia.  Banyak beberapa grup yang mengusung music kolaborasi yang telah merasakan panggung dunia dan mendapat antusiasme besar dari dunia misalnya saratus persen yang sudah merasakan panggung eropa dan amerika serta Krakatau bandi yang sudah berkeliling di 4 benua yang ada di dunia. Tentu saja hal ini sangat membuat masyarakat Indonesia yang mencintai music tradisi berdecak kagum dan bangga. Sayangnya kemajuan music dan sambutan hangat dunia untuk music kolaborasi ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang kurang menyadari pentingnya kesenian music tradisi dan pemerintahpun kurang memperhatikan prospek baik tersebut.
· · Bagikan · Hapus

confused :(

     Jaipong si Energik kehilangan sisi energiknya guys!!!! berbagai musibah yang ada membuat kami tidak bisa berkumpul di hari selasa kemarin. eittts tapi ini tidak membuat kita lost contac lohh....
     kami binguuuungg, dikarenakan senin lalu ada perancangan ulang judul dan kerangka yang kami buat sehingga kami harus memulainya dari awal lagi.. gak yakin bisa niiiiiihhhh :'( ....     T_T

Senin, 25 Juli 2011

Ini judul penelitian karya ilmiah kami !

Topik : Kesenian Tradisional
Judul : Kesenian Tradisional Didiskriminasi di Rumah Sendiri

  1. Fenomena kesenian tradisional masa kini
  • Eksistensi kesenian tradisional
  • Apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional
     2.  Penyebab pendiskriminasian kesenian tradisional
  • Kurangnya perhatian pemerintah
  • Pengaruh kesenian modern
  • kurangnya perhatian masyarakat
     3. Solusi
  • Pendidikan dini tentang kesenian tradisional
  • pengemasan kesenian tradisional menjadi lebih menarik
  • kebijakan pemerintah
  • memasyarakatkan kesenian tradisional dalam berbagai event

 

re pertemuan 5

     waaaaahhh akhirnya bisa menulis juga setelah mencoba menulis dengan judul ini di handphone :(.
Jumat lalu saya nyoba bikin entri baru lewat hp saya. Entah karena hp saya yang kelewat jelek atau apa, ketika saya sudah menulis panjang lebar tetepi setelah saya terbitkan yang muncul hanya judul. huhh pegal tangan dan hati rasanya. 
     Sesuai dengan judul, disini saya akan membahas tentang pertemuan ke 5 jumat lalu. Di pertemuan ini rasanya kami belajar hanya sebentar dan tidak terlalu terkonsep apa yang akan di pelajari, ditambah lagi suara saya yang tidak bisa keluar sama sekali. oya di pertemuan ini kami sepakat untuk membagi tugas loh. begini ....
  •       Aku (Vika) bertugas melakukan voting terkait penelitian kami
  •       Dina bertugas mewawancara pihak-pihak terkait
  •       Zaki bertugas mencari fakta tertulis tentang minat masyarakat terhadap berbagai event seni.
Sayangnya, minggu sore kami mendapat kabar dari Zaki bahwa dia sedang sakit dan berada di Purwakarta. Alhasil dia tidak akan hadir pada pertemuan ke 6 ini. Tapi itu tidak menutunkan semangat kami untuk bekerja sama. I just wanna say  "semoga cepat sembuh kawan!"

Senin, 18 Juli 2011

Jaipong Si Permata Jawa Barat

    wah, ini postingan pertama yang vika buat untuk testing niiihh. ya..ya..yaa.. seperti judulnya " Jaipong Si Permata Jawa Barat", kelompok ini akan mengotak atik tentang kesenian Jawa Barat yang sudah mendunia itu. Oke kita mulai saja.....

   Jaipong adalah tari pergaulan jawa barat yang diciptakan oleh  Gugum Gumbira seniman asal bandung. Jaipong sendiri mengambil gerakan dari ibing pencak silat dan tari ketuk tilu. yaa seiring perkembangannya, jaipong berhasil mendepak tari Merak ciptaan Tjetje Soemantri untuk melanglang ke dunia dan kini Jawa Barat identik dengan tari jaipong.

   cuma itu aja, maklum cuma testing. see my paper next time all !!